5 Kesalahan Wanita yang Sering Dilakukan Dalam Pernikahan
Mencoba mengingat kembali ke masa-masa pernikahan selama 22 tahun dengan almarhum suami. Apa sih yang harus dilakukan kita sebagai wanita agar jalinan pernikahan dengan pasangan awet sampai maut memisahkan lalu disatukan kembali di Jannah Nya.
Pernikahan
Pernikahan buatku adalah bagian terpanjang dalam menjalani hidup yang ditemani oleh satu orang lelaki. Berjanji setia dalam suka dan duka di hadapan penghulu. Pernikahan bukan hanya tentang cinta saat pacaran kalau gabut terus bubar. Pernikahan itu soal komitmen, kepercayaan, dan kesetiaan. Pernikahan adalah tentang membangun kehidupan bersama, menghadapi tantangan bersama, dan menciptakan kenangan indah bersama.
Baca Juga: 4 Alasan Anak Pisah Rumah Dari Orang Tua Setelah Menikah Menurut Islam
Kesalahan yang Tidak Disadari Oleh Wanita Dalam Pernikahan
Seperti kalimat klise yang sering ditemukan bahwa manusia tak pernah luput dari salah. Pun demikian dengan pernikahan. Kalau nggak laki-lakinya, ya wanitanya yang bikin salah. Atau bisa jadi keduanya jika tidak ada yang mau mengalah.
Selisih paham selalu ada, entah itu dalam mengelola rumah tangga, mengurus anak, keuangan, masalah keluarga pihak masing-masing pasangan, dan lainnya.
Evaluasi diri adalah salah satu usaha agar kita sebagai wanita bisa tetap bahagia selama menjalani pernikahan. Menikah adalah seni “mengalah” bukan untuk menang atas nama diri. Tapi atas nama cinta untuk keutuhan rumah tangga, keluarga, dan anak.
Yuk kita bahas apa saja dan mengapa wanita tidak sadar akan kesalahan yang dibuatnya sehingga menjadi sumber ketidakbahagiaan dalam pernikahan.
Baca Juga: Mau Pernikahan Awet? Lakukan 3 Aturan Tak Tertulis Ini
5 Kesalahan Wanita yang Sering Dilakukan Dalam Pernikahan:
1. Mengabaikan diri sendiri
Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh beberapa wanita adalah memprioritaskan peran mereka sebagai istri dan ibu di atas kesejahteraan mereka sendiri.
Keluarga memang sangat penting, namun penting juga untuk peduli pada diri sendiri. Mengabaikan passion, hobi, atau perawatan diri dapat menyebabkan kelelahan dan mengurangi kepuasan dalam pernikahan.
Sangat penting untuk memupuk pertumbuhan diri dan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan keluarga.
Setuju sih sama poin pertama ini. Jujur, aku mulai menekuni passion dan hobi setelah meninggalkan ranah publik.
Bersyukur almarhum suami mendukung segala ke-kepo-an istrinya. Mulai dari ikut les merajut, menjahit, decoupage, dan menulis yang paling lama ditekuni. Belum lagi ikut komunitas yang suka pergi kumpul pertemuan. Malahan dia yang nganterin. Ah love you full deh.
![]() |
| Dua dari beberapa hobi yang kulakukan waktu almarhum suami masih ada (foto: koleksi pribadi) |
Adanya aktivitas selain urusan rumah, bikin aku nggak “sumpek” dan jenuh.
Tapi, aku juga mendukung dia kalau dia suka organisasi. Nah bentuk dukunganku ke dia, aku suka ikut kalau ada acara akbar.
Baca Juga: Yuk, Omongin 5 Hal Penting Ini Dengan Pasangan Sebelum Menikah
2. Mengasumsikan pasangan dapat membaca pikiran
Mengasumsikan bahwa pasangan harus secara intuitif memahami perasaan, kebutuhan, atau keinginan tanpa komunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman.
Wanita terkadang berharap pasangannya dapat membaca apa yang tersirat, yang akhirnya malah berakhir menjadi ketegangan yang tidak perlu.
Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci untuk agar terhindar dari kesalahpahaman dalam hubungan pernikahan.
Ini nih, aku termasuk suka ngelakuin sikap begini. Kadang suami suka bingung. Aku tuh maunya apa, sih? Apalagi kalau aku udah jawab “terserah”. Ujung-ujungnya diem-dieman deh kita.
Please kamu jangan kayak aku ya. Sampaikan aja dengan jelas apa yang kamu mau. Suami gak bisa dengerin suara batin kita kayak di sinetron.
Baca Juga: 3 Hal Tentang Cinta Dalam Pernikahan yang Diajarkan Nabi Muhammad S.A.W.
3. Mengabaikan pentingnya keintiman
Keintiman bukan hanya sekedar kedekatan fisik; hubungan emosional termasuk dalam keintiman.
Beberapa wanita mungkin membuat kesalahan dengan mengabaikan pentingnya keintiman dalam pernikahan mereka.
Komunikasi dua arah, melakukan sesuatu bersama, dan mengekspresikan emosi akan membuat hubungan kamu dan pasangan menjadi lebih terikat.
Jadi, jangan mengabaikan pentingnya keintiman, ya, karena jika kamu melakukannya, akan menyebabkan jarak emosional antara kamu dan pasangan.
Baca Juga: Please, Jangan Jadikan 6 Alasan Ini Untuk Menikah Dengan Pasangan
4. Mengharapkan keinginan yang tidak realistis
Mengharapkan pasangan untuk memenuhi semua kebutuhan emosional, sosial, dan finansial adalah hal yang tidak realistis dan akan membebani pasangan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Jadi jangan mengharapkan pasangan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan kepuasan, karena jika tidak terpenuhi, kamu akan kecewa.
Sebaliknya, alih-alih menuntut pasangan seperti yang kamu inginkan. Lebih baik berilah pasangan dukungan atau semangat karena secara tidak langsung, tali pernikahan akan semakin kuat. Ingat, semua orang memiliki keterbatasan.
Bersyukurlah dan ucapkan terima kasih pada pasangan apapun yang dia beri. Meski pemberian itu jauh dari harapan kamu. Percayalah, dia telah melakukan yang terbaik dengan tujuan ingin membuat kamu bahagia.
Baca Juga: Nasi Goreng Strawberry Kecap Manis ABC, Buat #SuamiIstriMasak yang Nggak Pake Lama
5. Menghindari konflik alih-alih menyelesaikannya
Konflik tidak dapat dihindari dalam hubungan apapun, tetapi menghindari masalah dan tidak menyelesaikannya akan menimbulkan kerugian.
Beberapa wanita mungkin menghindari konfrontasi untuk menjaga keharmonisan, tetapi masalah yang tidak terselesaikan dapat membusuk dan berdampak negatif pada hubungan pernikahan.
Kalau almarhum mamah bilang, jangan masuk kamar kalau belum akur, agar nanti tidurnya nyenyak dan tanpa beban. Dan jangan pergi dari rumah dalam keadaan marah. Selesaikan masalah terlebih dahulu sebelum keluar rumah.
Itulah beberapa kesalahan yang sering dilakukan wanita dalam menjalani pernikahan. Dan sebaiknya sih mulai sekarang coba deh dihindari untuk tidak melakukannya.
Pernikahan itu memang komplek tapi bukan berarti takut untuk menikah. Menikahlah jika memang sudah waktunya. Waktu yang tepat tergantung dari masing-masing pasangan.
Tapi yang jelas harus cukup umur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yaitu batas minimal usia perkawinan yang tadinya 16 tahun berubah menjadi 19 tahun baik itu untuk laki-laki dan perempuan.
Sedang menurut BKKBN usia ideal menikah adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki agar matang secara fisik, mental, dan ekonomi.
























